Assalamualaikum Wr Wb,
Menyambut Ramadhan ini, dengan kerendahan hati saya mohon maaf lahir batin atas segala kesalahan!
Selamat menunaikan ibadah shaum di bulan Ramadhan ini
:) *Semoga Ramadhan tahun ini: menjadi penuh BBM (Bulan Barokah dan Maghfiroh) meningkatkan PREMIUM (PREi Makan dan mInUM) menjadikan SOLAR (SOlat Lebih Rajin) dan MINYAK TANAH (Meningkatkan Iman, baNYAK TAhaN AmarAH) serta PERTAMAX (PERangi TAbiat MAXiat). AMIN!!!*
ini ada tulisan dari temen yg bagus banget:
Sholat Sebagai Meditasi Tertinggi Dalam Islam
Menjelang bulan Ramadhan yang hari pertamanya Insya Allah jatuh pada hari Kamis, 13 September 2007, ada baiknya kita (saya?) mengevaluasi ibadah sholat kita, terutama sholat 5 waktu.
Mungkin kita (saya?) seringkali lupa bahwa sholat bukan hanya kewajiban seorang muslim, tapi justru kebutuhan. Sholat merupakan perjalanan mi’raj yaitu menuju kepada Allah. Islam menempatkan Zat Yang Maha Mutlak sebagai puncak tujuan ruhani, sandaran istirahatnya jiwa, sumber hidup, sumber kekuatan dan sumber mencari inspirasi. Dengan mengarahkan jiwa kepada Allah, ruhani akan mengalami pencerahan karena ia berada pada ketinggian yang tak terbatas, sehingga jiwa kembali pada kondisi semula, bersih (fitrah) dan tidak terkontaminasi oleh dorongan-dorongan nafsu negatifnya.
“Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu, yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka kembali kepadaNya’.” (QS Al Baqarah 2:45-46)
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu’dalam sholatnya.”(QS Al Mu’minun 23: 1-2)
Sholat memiliki kemampuan untuk mengurangi bahkan menghilangkan kecemasan karena terdapat 5 unsur di dalamnya yaitu:
- meditasi atau doa yang teratur, minimal 5 kali sehari.
- relaksasi melalui gerakan-gerakan sholat.
- hetero atau auto sugesti di dalam sholat.
- group-therapy dalam sholat berjama’ah, atau bahkan dalam sholat sendiri.
- hydro therapy atau wudhu sebelum sholat.
Sudahkah kita mendapatkan rasa khusyu’ di dalam sholat?
Jangan-jangan selama ini kita (saya?) termasuk orang-orang yang lalai dalam menjalankan sholat. Lalai tidak hanya berarti tidak menjalankan, tetapi bisa juga berarti sholat yang tidak dilandasi niat tertuju kepada Allah.
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat, yaitu orang-orang yang lalai dalam sholatnya, orang-orang yang berbuat riya’. (QS Al Maun 107:4-6)
Karena itu, tidaklah heran betapa banyak seorang muslim yang sholat, tetapi tidak mendapatkan kebaikan, tidak mendapatkan ketenangan dari sholatnya. Padahal, sholat adalah meditasi tertinggi dalam Islam.
Diriwayatkan oleh Abu Daud, Rasulullah bersabda: Betapa banyak orang yang sholat namun hanya mendapatkan rasa capek dan lelah.”
Mengapa khusyu’ sulit didapat?
Mungkin, yang pertama karena sejak kecil kita tidak dididik untuk mengenal Allah. Sejak kecil, kebanyakan orangtua kita hanya mengajarkan bahwa sholat adalah kewajiban. Kalau tidak sholat, kita akan dijebloskan ke neraka. Akhirnya, sholat hanya menjadi beban. Tanpa disadari, secara psikologis pikiran kita terganggu dengan doktrin tersebut. Kita tidak pernah disadarkan bahwa sholat itu untuk kebaikan kita dan bisa dirasakan langsung oleh pikiran dan hati kita, bahwa sholat akan memberikan perasaan damai, bahwa sholat merupakan tempat kita mengadu di saat kesusahan serta memohon petunjuk.
Perasaan khusyu’ tidak mungkin bisa didapatkan jika kita tidak memiliki kesadaran dan kepercayaan, bahwa sebenarnya di saat sholat kita sedang berhadapan dengan Allah, sedang berkata-kata dengan Allah. Perjumpaan ini yang dipandang tidak mungkin oleh sebagian orang, bahkan menganggap Allah jauh, tidak berada di sini, di dekat kita.
Mungkin kita LUPA terhadap hadist ini:
Hadist Qudsi: “Jika ia mendekatkan diri kepadaKu sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Jika ia mendekatkan diri kepadaku sehasta, maka Aku akan mendekatinya satu depa. Jika ia mendekatiku sambil berjalan, Aku akan mendekatinya sambil berlari.”
Jika kita tidak memahami kesadaran akan diri kita dan kepadaNya ruh itu akan kembali, maka perjalanan ruhani itu berhenti atau terlena ke dalam ilusi pikiran. Akibatnya respon dari Allah tidak ada.
Di bawah ini, adalah beberapa tahap awal dalam memasuki sholat:
- Heningkan pikiran Anda agar rileks.
- Biarkan tubuh meluruh, bersikaplah serileks mungkin.
- Kemudian, rasakan getaran kalbu yang bening dan sambungkan rasa itu kepada Allah. Getaran inilah yang menyebabkan pikiran tidak liar ke sana kemari.
- Bangkitkan kesadaran diri, bahwa Anda sedang berhadapan dengan Zat Yang Maha Kuasa, Yang Meliputi Segala Sesuatu, Yang Maha Hidup. Biarkan ruh Anda mengalir pergi, dengan menyerahkan diri: ”Hidupku dan matiku hanya untuk Allah semata.”
- Berniatlah dengan sadar sehingga muncul getaran rasa yang sangat kuat menarik ruhani meluncur ke hadiratNya. Pada saat itulah ucapkan takbir ”ALLAHU AKBAR”.
- Rasakan keadaan berserah yang masih menyelimuti getaran jiwa Anda dan mulailaj perlahan membaca setiap bacaan sholat.
Sehabis sholat, duduklah dengan tenang. Rasakan getaran yang masih membekas pada diri Anda. Ruhani Anda masih merasakan getaran takbir, sujud, rukuk dan penyerahan diri secara total. Kemudian berdikirlah dengan kalimat tasbih, tahmid, tahlil dan takbir.
Wudhu’ sebagai syarat sah dan kesempuraan sholat
”Barang siapa berwudhu lalu dibaguskan wudhu’ nya dan dikerjakan sholat dua raka’at, di mana ia tidak berbicara dengan dirinya dalam berwudhu’dan sholat itu sesuatu hal duniawi, niscaya keluarlah dia dari segala dosanya, seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya”. (HR Bukhari dan Muslim dari Utsman bin Affan)
Seyogyanya kita berwudhu’ sebagai bentuk peribadatan seperti halnya sholat, karena wudhu’ merupakan prosesi pembersihan jiwa.
Mari kita perbaiki sholat kita, sehingga Allah berkenan memberikan khusyu’ yang pada akhirnya akan memberikan kedamaian, ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki.
Dalam hidup kita butuh tempat untuk bersandar, dan Allah adalah sebaik-baik sandaran.
Saya menuliskan ini dengan dibarengi filosofi tiga jari, pada saat saya menunjuk, sesungguhnya tiga jari yang lain mengarah kepada diri sendiri.
Semoga berkenan dan bermanfaat.
Wassalam
Kartika
Sumber:
- Pelatihan Sholat Khusyu’: Sholat sebagai meditasi tertinggi dalam Islam. Penulis: Abu Sangkan. Penerbit: Sholat centre, Baitul Ihsan.
- The Spirituality of Name: Merajut Kebahagiaan Hidup dengan Nama-nama Allah. Penulis: Prof.Dr. Nasarudin Umar, M.A. Penerbit:Al Ghazali Center