silvia's posts with tag: french movie

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag french movie
ReviewReviewReviewReviewReviewThe Diving Bell & The ButterflyApr 29, '08 3:03 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Harus gue akui, gue emang penggemar film-film independen, film bukan aliran ‘mainstream’, film yang gak gampang ketebak jalan cerita dan akhir cerita, intinya bukan film formulasi Hollywood. Sayangnya kesempatan nonton film jenis beginian
sangat jarang. Makanya kalo ada kesempatan nonton film Eropa melalui Europe On Screen, Jakarta International Film Festival, atau Festival Cinema Perancis, gue gak bakal lewatin, apalagi kalo gratis, hehehh.


Pucuk dicinta ulam tiba, Kamis 17 April 2008 atas undangan temen yg dapet tiket gratis, gw diberi kesempatan nonton film Perancis. Awalnya sih sempet liat sinopsisnya di website mereka, tapi gak nyangka filmnya dahsyat banget, pantesan jd film penutup festival tahun ini.


Cerita yang diangkat dari kisah nyata ini dimulai dengan adegan di rumah sakit dimana sang tokoh baru saja siuman, pandangannya suram dan kabur, penonton diajak melihat melalui matanya dan mendengarkan suara hatinya.


Dikisahkan Jean-Dominique Bauby (42 tahun) seorang Pemimpin Redaksi Majalah Elle yang sukses dalam karir dan hubungan cinta dengan seorang model cantik. Ia memiliki tiga orang anak (1 putra dan 2 putri) dari hubungannya terdahulu. Secara mendadak ketika sedang berkendara dengan putranya, ia terserang stroke secara misterius, ia bukan perokok, alkoholik, atau memiliki kelainan lainnya. Memang kasusnya sangat langka disebut ‘locked-in syndrome’ dimana otak terkurung dan tak bisa berfungsi. Kisah bergulir dengan usaha Jean-Do bangkit dari kelumpuhan seluruh tubuh kecuali kedipan mata kirinya, beruntung ia masih punya ‘the two angels’ dua orang terapis yang setia mendampinginya, seorang fisioterapis dan seorang lagi speech terapis.


Perlahan tapi pasti Jean-Do mampu bangkit melawan keputusasaannya yang merasa bagai diving bell alias lonceng tenggelam yang gak akan bisa naik lagi ke permukaan laut, hingga menjadi kupu-kupu yang keluar dari tempat gelap menuju keindahan cahaya.


Scene demi scene berlalu tanpa cela, adegan flashback dan masa kini mengalir dengan mudahnya hingga penonton tidak dibuat bingung, scene serius dan komedik juga berbaur asri, berupa perenungan Jean-Do akan nasibnya hingga angan-angannya yang luas hingga angan-angan khas lelaki, heheheh…Scene favorit gw ialah waktu anak Jean-Do menghapus air mata yang menetes di pipi ayahnya, so touchy…juga waktu ayah Jean-Do bilang, “Nak, kita sama-sama terkungkung, kamu dalam tubuhmu sendiri, sedangkan aku dalam apartemen” (ayah Jean-Do gak bisa keluar dari apartemen karena tubuh tuanya gak bisa naik-turun tangga), hiks…


Akhirnya…..??? Jean-Do meninggal. Setelah ia berhasil menulis memoir dirinya hanya dengan kedipan mata, terapisnya akan membaca huruf demi huruf dan ia akan berkedip tiap sampai ke huruf yang dimaksud, terus hingga menyusun sebuah kata, luar biasa bukan???


Film ini punya makna mendalam buat gw, mengingatkan makna tawakal yang sesungguhnya, karena bukankan kita selalu diajak untuk berusaha dan tidak menyerah pada nasib lalu setelahnya memasrahkan semua hasilnya kepada Tuhan???


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help