ReviewReviewReviewGoal & Goal 2Jun 19, '08 2:54 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Sports
In the spirit of Euro 2008, enjoy the review!


Goal (The Impossible Dream)

Bercerita tentang Santiago Munez (Santi), seorang imigran ilegal di Los Angeles asal Mexico, berusia 20 tahun. Sehari-hari ia dan keluarganya bekerja sebagai pembersih kolam renang dan taman di daerah mewah LA. Di waktu senggang Santiago senang bermain sepak bola, olahraga favoritnya sejak kecil. Suatu hari ketika sedang bertanding dengan teman-temannya, seorang mantan pemain bola dan agen, Glen, melihat bakat terpendam pemuda ini. Glen langsung menghubungi mantan pelatihnya di Newcastle United dan meminta ia untuk datang ke US untuk melihat Santi bermain. Dapat diduga, pelatih tsb tidak datang sesuai janjinya. Santi yang kecewa merasa putus asa dan hampir melupakan mimpinya menjadi pemain bola ternama. Merasa bersalah pada Santi, Glen menelepon pelatih tsb dan memohon agar Santi bisa try out selama sebulan di Newcastle. Tak dinyana pelatih tsb setuju dan Glen pun segera menyampaikan kabar ini pada Santi sekeluarga. Ayahnya jelas-jelas menentang niat Santi untuk pergi ke Inggris dan ingin anaknya meneruskan bisnis keluarga saja dan berhenti bermimpi, untung Santi punya neneknya yang sangat pengertian dan memberi restunya. Maka pergilah Santi ke Inggris dengan risiko tidak akan mudah untuknya kembali ke US karena statusnya yang ilegal.

Di Inggris Santi harus mati-matian bekerja keras dan menyesuaikan diri dengan kebiasaan, dialek, dan cuaca disana. Untungnya ia punya Glen yang sudah seperti ayah angkat baginya, Roz si perawat yang ditaksir Santi, dan Jamie teman sesama reserve (tim try out). Masa percobaannya yang hanya satu bulan jauh lebih sedikit dari teman2nya yang lain. Perlahan tapi pasti Santi memperoleh kepercayaan pelatihnya dan dipilih mewakili tim reserve Newcastle. Tapi sayang disaat menentukan, ia malah gagal menunjukkan kemampuannya. Semua karena ia terserang asma dan inhalernya juga hancur diinjak salah satu rekan timnya yang memang sejak dulu sirik padanya. Tanpa kasihan, pelatihnya langsung memecatnya dan menyuruhnya kembali ke LA.

Dalam taksi menuju bandara tak dinyana taksinya malah diminta anggota the A-team alias tim inti Newcastle, Gavin Harris, yang buru-buru mengejar waktu latihan akibat pesta semalaman. Sepanjang perjalanan ia curhat pada Gavin. Gavin yang kasihan padanya memintanya kembali ke tim dan memohon pada pelatih untuk menerimanya kembali. Santi pun berterus-terang pada pelatih tentang kondisi asmanya. Pelatih kemudian menerimanya kembali dan kemudian Santi berhasil masuk A-team. Sayang, Santi harus kehilangan ayahnya karena serangan jantung, akan tetapi ia sangat bangga karena ayahnya sempat menyaksikannya bermain. Dan dimulailah perjalanan Santi…

Soundtrack yang keren, editing dan angle gambar juga patut diacungi jempol. Meskipun ceritanya klise, tapi sutradara berhasil meramunya menjadi tidak membosankan, jadi dijamin semua orang, suka atau tidak pada sepak bola, akan menyenangi film ini.

Favorite lines:
Glen: “Welcome to the toon!”
Santi: “What’s the toon?”
Glen: “It’s where the geordies live”
Santi: “Who’s geordies?”
Glen: “People who live in the toon”

Jamie: “Let’s go for a drink”
Santi: “But I don’t have an ID”
Jamie: “Why do you need an ID?”
Santi: “Well, how old do you have to be to drink here?”
Jamie: “ehm, eleven”




Goal 2 (Living the dream)


Is living your dream easy? not always…
Di seri kedua ini Santi sudah menjalani mimpinya sebagai pemain liga Premiership di Newcastle dengan sorotan pers yang ada dipihaknya, Roz, tunangannya, Glen sebagai agen, rumah besar beserta mobil yang selalu diimpikannya.

Saat itulah tawaran dari Real Madrid, tim terbesar dan terkaya di Eropa, datang padanya. Ketika itu tim tersebut banjir pemain bintang tapi minim prestasi. Ia pun menerima tawaran itu dengan tangan terbuka dan reuni lagi dengan teman lamanya di Newcastle United, Gavin.

Disini digambarkan glamornya dunia sepakbola yang identik dengan wanita, uang, dan kemewahan. Ada juga cameo pemain ternama seperti: David Beckham, Raul Gonzales, Zinedine Zidane, Iker Casillas, dan Ronaldo, tapi sayang mereka terkesan hanya ‘ditempelkan’ masih lumayan di Goal, dimana Beckham dan Raul ada dialognya.

Mampukah Santi melawan surga dunia tersebut? Disini juga dikisahkan Santi yang bertemu kembali dengan ibunya yang lama hilang dan bagaimana ia bangkit dari cedera selama 2 bulan dan membantu timnya menjuarai Champions Cup.

Menurut gw, Goal lebih enak dinikmati daripada Goal 2, ini terasa saat pengambilan gambar saat pertandingan2 Real Madrid, terlihat sekali Santi dan Gavin terkesan hanya ‘ditempelkan’, editingnya juga tidak sehalus film sebelumnya. But I’m still exited to see the last of the trilogy, which by schedule will come out this year.


Photo by: www.bp1.blogger.com


ReviewReviewReviewReviewReviewThe Diving Bell & The ButterflyApr 29, '08 3:03 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Harus gue akui, gue emang penggemar film-film independen, film bukan aliran ‘mainstream’, film yang gak gampang ketebak jalan cerita dan akhir cerita, intinya bukan film formulasi Hollywood. Sayangnya kesempatan nonton film jenis beginian
sangat jarang. Makanya kalo ada kesempatan nonton film Eropa melalui Europe On Screen, Jakarta International Film Festival, atau Festival Cinema Perancis, gue gak bakal lewatin, apalagi kalo gratis, hehehh.


Pucuk dicinta ulam tiba, Kamis 17 April 2008 atas undangan temen yg dapet tiket gratis, gw diberi kesempatan nonton film Perancis. Awalnya sih sempet liat sinopsisnya di website mereka, tapi gak nyangka filmnya dahsyat banget, pantesan jd film penutup festival tahun ini.


Cerita yang diangkat dari kisah nyata ini dimulai dengan adegan di rumah sakit dimana sang tokoh baru saja siuman, pandangannya suram dan kabur, penonton diajak melihat melalui matanya dan mendengarkan suara hatinya.


Dikisahkan Jean-Dominique Bauby (42 tahun) seorang Pemimpin Redaksi Majalah Elle yang sukses dalam karir dan hubungan cinta dengan seorang model cantik. Ia memiliki tiga orang anak (1 putra dan 2 putri) dari hubungannya terdahulu. Secara mendadak ketika sedang berkendara dengan putranya, ia terserang stroke secara misterius, ia bukan perokok, alkoholik, atau memiliki kelainan lainnya. Memang kasusnya sangat langka disebut ‘locked-in syndrome’ dimana otak terkurung dan tak bisa berfungsi. Kisah bergulir dengan usaha Jean-Do bangkit dari kelumpuhan seluruh tubuh kecuali kedipan mata kirinya, beruntung ia masih punya ‘the two angels’ dua orang terapis yang setia mendampinginya, seorang fisioterapis dan seorang lagi speech terapis.


Perlahan tapi pasti Jean-Do mampu bangkit melawan keputusasaannya yang merasa bagai diving bell alias lonceng tenggelam yang gak akan bisa naik lagi ke permukaan laut, hingga menjadi kupu-kupu yang keluar dari tempat gelap menuju keindahan cahaya.


Scene demi scene berlalu tanpa cela, adegan flashback dan masa kini mengalir dengan mudahnya hingga penonton tidak dibuat bingung, scene serius dan komedik juga berbaur asri, berupa perenungan Jean-Do akan nasibnya hingga angan-angannya yang luas hingga angan-angan khas lelaki, heheheh…Scene favorit gw ialah waktu anak Jean-Do menghapus air mata yang menetes di pipi ayahnya, so touchy…juga waktu ayah Jean-Do bilang, “Nak, kita sama-sama terkungkung, kamu dalam tubuhmu sendiri, sedangkan aku dalam apartemen” (ayah Jean-Do gak bisa keluar dari apartemen karena tubuh tuanya gak bisa naik-turun tangga), hiks…


Akhirnya…..??? Jean-Do meninggal. Setelah ia berhasil menulis memoir dirinya hanya dengan kedipan mata, terapisnya akan membaca huruf demi huruf dan ia akan berkedip tiap sampai ke huruf yang dimaksud, terus hingga menyusun sebuah kata, luar biasa bukan???


Film ini punya makna mendalam buat gw, mengingatkan makna tawakal yang sesungguhnya, karena bukankan kita selalu diajak untuk berusaha dan tidak menyerah pada nasib lalu setelahnya memasrahkan semua hasilnya kepada Tuhan???


ReviewReviewReviewReviewReviewMy Name is RedJan 11, '08 1:33 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Literature & Fiction
Author:Orhan Pamuk
“Timur dan Barat keduanya adalah milik Tuhan”

Akhirnya….bisa selesai juga buku yg udah lama gw beli ini. Pantes saja buku ini menang Nobel 2006, karena memang sungguh menakjubkan!!!

My Name is Red adalah sebuah masterpiece karya Orhan Pamuk, seorang penulis asal Turki. Novel tebal ini berlatar belakang Turki abad 15, ketika Sultan, Pasha, dan miniaturis berjaya.

Novel menceritakan pembunuhan seorang miniaturis (sejenis ilustrator pembuat buku untuk Sultan). Selanjutnya juga diceritakan proses penyelidikan yang dilakukan Hitam terhadap tersangka pembunuhan yang ternyata merupakan sesama miniaturis. Dengan lihainya Orhan membuat kita menerka-nerka pembunuh yang sebenarnya, berpindah-pindah antara tiga tersangka pembunuh, hingga bagian akhir novel jawaban baru terbuka. Gw yang sejak awal sudah yakin atas satu tersangka sempat berpindah sebelum akhirnya kembali ke tersangka awal, yang ternyata memang pembunuh sebenarnya. Novel ini juga tak luput menyelipkan cerita cinta segitiga antara Hitam, Shekure, dan Hasan.

Cara tutur Orhan lebih mengandalkan penggambaran mendalam daripada dialog tak berujung. Tiap babnya pencerita bisa berubah dari tokoh satu ke tokoh lain, contohnya bab pertama penceritanya sesosok mayat, berikutnya seekor anjing, bahkan warna merah juga bisa menjadi pencerita. Penulis juga membuat nama sama dengannya untuk salah satu tokoh.

Yang mengagumkan buatku ialah penggambaran benturan budaya asing yang ketika itu baru saja mulai masuk ke Turki. Bagaimana pengaruh lukisan kaum Frank (sebutan mereka untuk pelukis Barat) terhadap ilustrasi karya miniaturis, yang mulai kehilangan pegangan budaya dan terbawa arus kaum Frank. Disini juga digambarkan bagaimana sulitnya mempertahankan nilai-nilai agama ditengah pengaruh Barat yang demikian besarnya, suatu hal yang masih relevan hingga sekarang.

So, read it now, cos it’s worth it !



ReviewReviewReviewReviewPollekeDec 17, '07 4:03 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Kids & Family
Aneh aku ini...nonton film Indonesia di Belanda en nonton film Belanda malah di Indonesia. Tahun Februari 2006 aku menonton “Gie” yang ketika itu diputar dalam rangka Rotterdam Film Festival. Aku mengajak Trinh, temanku dari Canada kala itu en kami juga bertemu sutradara film ini, Riri Riza, yang datang kesana dalam rangka festival.

November 2007 aku menonton sebuah film keluarga asal Belanda yang berjudul “Polleke” dalam rangka Europe on Screen secara gratis di Pusat Kebudayaan Italia, Menteng-Jakarta.

Polleke berusia 11 tahun, tinggal di daerah kumuh Amsterdam yang ramai dengan berbagai etnis, termasuk Maroko. Disana ia pacaran dengan teman sekelas sekaligus tetangganya Mimoen yang berasal dari Maroko. Orangtua Polleke sudah lama bercerai, ibunya bekerja di Wartel sementara ayahnya seorang pengangguran pecandu drugs.

Cerita kemudian berlanjut dengan ketidaksetujuan paman Mimoen akan hubungan pertemanan ponakannya dengan Polleke dan ingin menjodohkan Mimoen dengan putrinya kelak. A classic tale of ethnicity clash. Di ceritakan pula bagaimana sulitnya Polleke beradapatasi dengan adat Maroko. Di lain pihak, ibu Polleke malah jatuh cinta dengan guru sekolahnya, yang tentu saja awalnya tidak disetujui oleh Polleke karena ia merasa malu pada teman2 sekolahnya.

Betapapun ayahnya seringkali menipu dirinya demi uang untuk membeli drugs, bahkan ketika makan di restoran bersama ayahnya dan pacarnya, Polleke disuruh membayar dengan uangnya sendiri (ceritanya going dutch gitu, hehehheh….tau sendiri deh pelitnya mereka…). Di balik itu semua Polleke sangat mencintai ayahnya dan ingin ia sembuh. Setelah mengancam, akhirnya ayahnya pun setuju untuk ke rehab ditemani Polleke.

Polleke, kisah gadis kecil yang tabah menjalani berbagai masalah yg menimpanya dan tentu saja dialog dan setting cerita membawaku bernostalgia !!! Film keluaran 2003 ini punya jalan cerita yang tidak membosankan karena diselipi humor, it’s worth to watch!
Groeten uit Jakarta!


ReviewReviewReviewReviewLovelorn (Gonul Yarasi)Nov 2, '07 4:12 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Lovelorn means unhappy in love; suffering from unrequited love

Ini film pertama yang gw tonton di Europe On Screen 2007, sebuah gelaran gratis yang memutar berbagai film dari eropa di 4 tempat pemutaran: Goethe Institut, Erasmus Huis, Istituto Italiano di Cultura (IIC), dan Centre Culturel Francais (CCF) selama 27 Oktober hingga 2 November 2007 lalu. Film yang mewakili Turki dalam kompetisi Oscar untuk Best Foreign Film tahun 2006 ini diputar di IIC.

Lovelorn bercerita tentang seorang guru SD (Nazim) yang baru saja pensiun dari mengajar di daerah terpencil Turki (Anatolia) dimana banyak orang Kurdi tinggal. Setelah 15 tahun mengajar, ia memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Istambul. Disana ia menemui dua anaknya yang telah dewasa. Anak laki-lakinya sudah berkeluarga dan punya anak remaja, sementara anak perempuannya baru saja bercerai. Karena sudah meninggalkan rumahnya selama 15 tahun tanpa pernah sekalipun menengok mereka, hubungan ia dan anak-anaknya pun terasa dingin, terutama dengan anak laki-lakinya yang hanya peduli pada tanah warisan ayahnya. Sementara putrinya memiliki dendam pada ayahnya karena tak punya waktu untuk membawanya berobat ketika ia kecil, akibatnya penyakit kronis tersebut, ia di vonis tak bisa punya anak seumur hidup.

Di Istambul ia menyewa sebuah apartemen kecil di dekat stasiun kereta dan tinggal sendirian. Untuk menyambung hidup ia bekerja menjadi supir taksi menggunakan mobil milik sahabatnya. Suatu hari ketika sedang menunggu di depan sebuah bar, mobilnya ditumpangi seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai penyanyi sekaligus escort di bar tersebut (Dunya), perempuan yang melarikan diri dari suaminya membawa anak mereka yang trauma dan tak pernah berbicara (Melek).

Ketika menjemput Dunya, tanpa sengaja Nazim terlibat perkelahian di bar antara Dunya dan mantan suaminya yang menyebabkan Dunya terluka, Nazim tak sampai hati melihat Dunya dan anaknya tinggal di hotel dan menawarkan mereka untuk tinggal di rumahnya. Hubungan spesial pun timbul antara keduanya

Meskipun bergenre drama tapi sesekali diselipkan juga adegan yang mengundang tawa, misalnya ketika adegan kejar-kejaran antara Dunya dkk dengan mantan suaminya, tiba-tiba Nazmir malah terserang tekanan darah tinggi dan fokus pengejaran jadi berpindah menjadi mengantarkan Nazmir ke apotik. Film juga diiringi lagu-lagu menyayat hati berbahasa Kurdistan dan Turki yang bisa mengangkat emosi film.

Setelah meminta maaf dan memohon pada Nazim, akhirnya mantan suami Dunya diperbolehkan membawa Dunya dan anaknya untuk kembali ke rumah mereka. Apa yang terjadi? KDRT masih kerap dialami Dunya, saat ia tak kuat lagi, ia menelepon Nazim untuk menjemputnya di terminal bis, kemudian mantan suaminya menyusul kesana dan memohon Dunya kembali padanya. Dunya sudah berkeras tak akan kembali padanya, mantan suaminya akhirnya menyerah dan meminta Dunya bernyanyi untuknya yang terakhir kali. Dunya pun menyanyikan lagu balada yang indah, sambil terus menatap Nazim yang ada di meja depannya. Mereka bertukar pandangan penuh makna, hingga tiba-tiba….DOOOORRRRRRRR!!! sepucuk pistol yang diarahkan di pelipis Dunya mengeluarkan isinya dan Dunya jatuh ke lantai seketika. Mantan suaminya berdiri, lalu berkata “Kuserahkan Melek padamu” kepada Nazim. Dan mengarahkan pistol itu ke kepalanya sendiri lalu DOOOORRRR!!! Ia pun jatuh terbaring di sebelah Dunya. Melek yang menyaksikan semua kejadian itu hanya bisa terpaku.

Scene pun berganti dengan adegan Nazim yang mengenalkan foto mantan anak didiknya pada Melek, dan tanpa disangka Melek tiba-tiba mengikuti Nazim menyebutkan nama-nama mantan anak didiknya. Dengan mata berkaca-kaca Nazim berkata “Kau mau sekolah?” Melek pun menjawab “Mau”

Nazim mendatangi kantor putrinya untuk meminta maaf padanya dan kakaknya, ia lalu berkata, “aku ini korban mimpiku, sedihnya lagi, apabila aku lahir kembali, aku akan tetap berbuat yang sama” putrinya hanya terdiam.

Keesokan harinya, Nazim mengunjungi putrinya dan meminta tolong untuk menitipkan Melek padanya karena ia akan berangkat kerja. Putrinya tersenyum manis padanya dan menyetujui permintaannya. Sebagai penutup terlihat scene putri Nazim menyisir rambut Melek, sementara Nazim menyusuri jalan Istambul bersama taksinya ditemani setangkai bunga pemberian Dunya dulu yang ia tempelkan di kaca spion.

Nazim adalah seorang guru idealis yang mengabdikan diri pada masyarakat, tapi di sisi lain ia harus mengorbankan keluarganya sendiri untuk itu. Sebuah pilihan yang tak mudah dan tak semua berani mengambilnya. Memang benar, hidup adalah pilihan dan Nazim telah mengambil sebuah pilihan hidup yang berani.

Note: Karena filmya susah dicari, makanya gw ceritain detail sampe endingnya ...


ReviewReviewReviewReviewParis J'TaimeJun 14, '07 12:14 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Romance
Paris J’Taime (Paris I love u)
Paris the city of love or the city of lovers?

Menonton film ini setelah membaca sinopsisnya, jadi gak kaget sebelumnya kalo nih film emang beda ama yg lain. Bayangkan nonton 20 film pendek yg digabung. Tiap film pendek berdurasi 10-15 menit dgn berlatar belakang berbagai tempat di kota Paris juga suburbannya. Film yg jadi unggulan di festival film Cannes ini berdurasi total hampir 2 jam.

Emosi yang dibuat lompat2, sedih di satu cerita, lucu di yang lain, agak horor di lain lagi, bahkan aneh dan membingungkan di lainnya. Ada beberapa cerita yang gw nilai lebih seru seandainya dibuat lebih panjang; misalnya cerita ttg perkenalan remaja berkerudung imigran Perancis dengan pemuda asli Perancis yang simpel tapi dalem banget.

Semua versi cinta ada disini: cinta ortu kepada anak, cinta tak bersambut, cinta pada sejenis kelamin, cinta pada suami/istri, soulmate, cinta pada diri sendiri, dan cinta pada sebuah kota.

Kehadiran berbagai bintang Hollywood gw rasa gak penting deh, lagipula mereka justru gak segemilang yang aktor/aktris asli Perancis. Maggie Gylegenhall yg jd junkie gak jelas (lumayan lah ada usaha pake bhs Perancis), Elijah Wood (gw bingung kok mau2nya jadi vampire gak jelas, the worst short story in this whole set), Natalie Portman yg biasa aja jd seorang aktris/pacar cowok tuna netra.

Kalau bosen dgn film yang gitu-gitu aja, gak ada salahnya nonton film ini, paling gak bisa jadi nostalgia kl kamu pernah ke Perancis, ato bagi yg belum bisa nambah pengetahuan. Selain itu gw jg jd penasaran ama Oscar Wilde yg ada di film ini, langsung search di wikipedia ttg penulis tsb (he is indeed controversial and talented).

Gak bisa bhs Perancis? Tenang, kan ada subtitle, bahkan ada beberapa film yg completely in english. Although I must admit the French speak so fast (especially when cursing) so bbrp kali gw hrs pause or rewind to see the english subtitle (fortunately I watch it on DVD)

Ada bbrp film di dalemnya yg gw suka: ttg suami yg jatuh cinta lagi ama istrinya, turis di Paris yg kocak abis, gadis berkerudung, cinta gak bersambut, and last but not least cerita paling akhir; wanita yg berkelana di Paris sendirian, she felt lonely, but then she realize all she need is…Paris (exactly how I felt for London, when traveling there alone, I fell in love with it).

So overall I give it 4 star out of 5, if u watch it already let me know what u think!


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help